RESENSI TAK ADA KEBAHAGIAAN BAGINYA

https://i2.wp.com/www.belbuk.com/images/products/bahasa--kamus/bahasa/bahasa-umum/Tak%20Ada%20Kebahagiaan%20Baginyam.jpg

Judul               : Tak Ada Kebahagiaan Baginya

Penulis             : Nawal El Saadawi

Penerbit           : Yayasan Obor Indonesia

Tebal               : 165 hlm

ISBN               : 979-461-378-9

 

Buku ini merupakan kumpulan cerita yang ditulis oleh salah seorang penulis Mesir termasyur yaitu Nawal El Saadawi. Mengisahkan tentang kekuasaan dan keadaan tidak berdaya yang mengekspos hubungan-hubungan diantara individu dalam masyarakat pada saat itu.

Nawal El Saadawi mengangkat kisah tentang kehidupan pada saat perang, bom-bom yang jatuh diudara, rumah-rumah hancur serta orang-orang yang terbakar, sehingga membuat segalanya menjadi porak-poranda. Dalam film, dia melihat puing-puing peperangan menyaksikan ledakan-ledakan serta kebakaran. Tetapi semua ini hanyalah sebuah sandiwara, film bukanlah kehidupan dan segalanya yang terjadi di dalam film tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.

Dia dulu menyukai adegan peperangan di layar bioskop, karena adegan tersebut merupakan petualangan yang menyenangkan, seperti petualangan cinta dan seks serta mitos-mitos dan legenda-legenda. Sementara itu dalam hidup, atau paling tidak kehidupannya, tidak terdapat legenda dan petualangan.

Dia adalah perempuan terhormat, telah menikah, dan mempunyai enam orang anak tanpa mengenal cinta atau seks. Suaminya sama sekali tidak pernah melihat dia melepas pakaiannya. Saat sang suami mendekatinya di temapt tidur, dia menolaknya dengan kuat dan batinnya tidak marah jika dia menerima karena dia melakukannya dengan jiwa yang lain dan yang dia rasakan bukanlah kenikmatan melainkan rasa sakit.

Suara meriam itu berbunyi lagi, dia tidak percaya akan terjadi perang. Dia takut pada orang-orang berpenyakit, pada orang-orang berwajah seram serta mayat-mayat yang ditutupi kain. Jika suaminya pergi untuk beberapa hari, dia pasti pergi menginap di apartemen tetangganya.

Suara ledakan itu bergema. Dia berlari dengan sempoyongan dan bersembunyi dikolong tempat tidur. Dia membisu di kolong tempat tidur dan kerena tidak mendengar suara apa-apa lagi dia merangkak keluar dengan hati-hati. Sesaat setelah itu dia memastikan bahwa anggota tubuhnya masih lengkap. Dia berdiri dengan penuh kewaspadaan melihat kearah ruang tamu. Dia melangkah dengan pelan-pelan dan hati-hati menuju ruangan itu. Dia bersyukur karena tidak terjadi apa-apa diruangan itu. Walawpun ada sedikit serpihan granat yang membuatnya panik. Waktu berlalu dan dia tidak mendengar apa-apa, semuanya tampak tenang.

Dia pergi menemui suaminya dan berjalan bersama suaminya kemudian terhenti pada sebuah bangunan yang memiliki jendela biru, dikelilingi kebun yang luas dan berpagar kawat, ditumbuhi bunga-bunga yang indah dan suara gemericik air seseorang yang sedang menyirami tanaman tersebut.

Dia tersadar bahwa sejak satu jam yang lalu atau mungkin lebih sedikit, perang telah meletus di Ismailiyyah. Tetapi sebenarnya prang itu telah terjadi jauh sekali di Qurasiyyah. Dan pada akhirnya dia dan suaminya pulang.

Setting yang digunakan dalam novel ini begitu nyata, membuat pembaca merasakan ketegangan pada saat-saat perang.

Kekuatan dari novel ini adalah dapat memberikan pelajaran yang berharga, tentang Kekuatan Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s